Klasemen Liga Italia 2015/2016

Klasemen Liga Spanyol sementara untuk musim 2015/2016 minggu ini. Lihat juga klasemen liga-liga eropa lainnya: Klasemen Liga Inggris dan Klasemen Liga Spanyol.

No Club MP W D L GF GA GD Points
1 Fiorentina 12 9 0 3 24 9 15 27
2 Internazionale 12 8 3 1 12 7 5 27
3 Roma 12 8 2 2 27 13 14 26
4 Napoli 12 7 4 1 22 8 14 25
5 Sassuolo 12 6 4 2 14 10 4 22
6 Milan 12 6 2 4 15 16 -1 20
7 Juventus 12 5 3 4 16 11 5 18
8 Atalanta 12 5 3 4 13 14 -1 18
9 Lazio 12 6 0 6 16 20 -4 18
10 Sampdoria 12 4 4 4 19 17 2 16
11 Torino 12 4 3 5 17 18 -1 15
12 Palermo 12 4 2 6 12 16 -4 14
13 Empoli 12 4 2 6 13 18 -5 14
14 Chievo 12 3 4 5 14 12 2 13
15 Genoa 12 3 4 5 12 16 -4 13
16 Bologna 12 4 0 8 11 15 -4 12
17 Udinese 12 3 3 6 10 15 -5 12
18 Frosinone 12 3 2 7 11 18 -7 11
19 Hellas Verona 12 0 6 6 8 19 -11 6
20 Carpi 12 1 3 8 10 24 -14 6

Klasemen Akhir Liga Italia 2014/2015

Juventus Pertahankan Gelar Juara, Parma Terdegradasi Karena Salah Langkah

Tidak ada lagi yang menghalangi langkah Juventus menjadi juara sejak liga Italia memasuki pekan ke 35. Selisih poin yang terpaut jauh dari dua lawan terdekatnya di posisi kedua dan ketiga, Roma dan Lazio sudah memantapkan langkah Bianconeri yang kini tengah bersiap-siap menghadapi laga hidup mati di final Liga Champions menghadapi raksasa Spanyol, Barcelona. Keberhasilan Juventus menjadi tim terbaik di Italia ini adalah yang keempat kalinya secara berturut-turut. Yang membuat Juventus istimewa adalah perjalanan karir ‘si Nyonya Tua’ ini. Skandal suap yang melibatkan tim ini membuatnya harus terdegradasi di seri B di tahun 2006. Ditinggalkan oleh beberapa pemainnya, Juventus harus tertatih-tatih untuk bisa mengembalikan nama baiknya. Tim ini masih beruntung karena ada beberapa nama yang masih setia seperti kiper legendaris Gianluigi Buffon, Pavel Nedved dan Alessando Del Piero. Tentu, Juventus yang memiliki mental juara dapat langsung menjuarai Serie B 2006-2007 dan kembali berjaya di seri A. Juventus mengukuhkan namanya sebagai kampiun liga utama Italia selama empat musim sejak 2012-13, 2013-14, dan 2014-15.

AS Roma, yang menduduki peringkat kedua klasemen akhir liga Italia tahun 2015 ini pun tak kalah puas. Sang manajer, Rudi Garcia, menyatakan rasa percaya dirinya akan penampilan AS Roma yang lebih baik di musim depan. Kendati di pertandingan akhir liga Italia kemarin, tim ini kalah dari Palermo di kandangnya sendiri, namun bukan berarti pesta kegembiraan urung terjadi. Lolos ke Liga Champions adalah prestasi cemerlang dari tim asal negara ibukota Italia ini. Menduduki posisi runner up adalah prestasi yang sudah diraih selama 13 kali hingga musim ini. Musim lalu, AS Roma juga berada di bawah Juventus. Di musim 2013-14, besutan Rudi Garcia memiliki selisih 7 poin dari Napoli yang berada di peringkat ketiga. Sementara tahun ini, AS Roma hanya selisih satu poin dari Lazio, rival bebuyutannya.

Lazio

Meraih posisi ketiga tidak dilalui dengan mudah. Bagi Biancoceleste, haram hukumnya jika memiliki selisih poin yang jauh dari rekan sesama kota, AS Roma. Di pertandingan terakhir liga Italia seri A di pekan ke 38, Lazio berhasil menaklukkan Napoli 2-4. Meski sempat merasakan angkernya stadion Sao Paolo, namun Lazio berhasil mempermalukan tuan rumah dengan skor lumayan telak.

Pelatih Lazio, Stefano Pioli mengatakan bahwa timnya memang berhak menjadi salah satu dari tim bintang yang beradu kebolehan di Liga Champion. Kini Pioli berharap bahwa timnya bermain lebih baik lagi di liga domestik, dan menunjukkan profesionalismenya di kancah perhelatan di benua Eropa.

“Tim saya terdiri para pemain spesial, dengan kemampuan bermain bola sangat tinggi,” katanya, seperti yang dikutip dari Sport Mediaset. “Banyak kesulitan sudah dilampaui dan inilah hasil yangsudah kita petik.” Ia melanjutkan bahwa kejayaan ini adalah awal untuk dijadikan pondasi tim yang lebih kuat di musim depan.

Lazio mengakhiri Serie A musim ini dengan 21 kemenangan dari 38 pertandingan.

Fiorentina

Kekalahan Napoli dari Lazio cukup menguntungkan Fiorentina yang mengalahkan Chievo 3-0. Fiorentina pun merangkak naik di peringkat keempat klasemen akhir Liga Italia serie A dengan raihan tiga poin menjadi 64, selisih satu poin dari Napoli yang tetap bertahan dengan 63 poin. Di tiga pertandingan sebelumnya, Fiorentina membukukan rekor cukup bagus dengan mengalahkan Palermo 2-3, membekuk Parma 3-0, meski kalah 0-2 dari Sevilla.

Napoli

Berakhir di peringkat kelima klasemen akhir Liga Italia musim ini tentu bukan harapan Napoli. Terlebih, tim ini akan ditinggalkan oleh pelatihnya, Rafael Benitez. Pelatih asal Spanyol ini akan pulang ke negaranya dan melatih Real Madrid, yang baru saja memecat Carlo Ancelotti.

‘Tentu tidak mudah meninggalkan klub yang sudah memperlakukan saya dengan istimewa selama dua tahun terakhir,” papar Benitez pada jumpa pers yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Mantan pelatih Liverpool dan Chelsea ini mengungkapkan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak di Napoli, mulai dari presiden, awak klub dan semua fans Napoli. Kabar burung yang sempat santer terdengar adalah, Napoli akan diarsiteki oleh Sinisa Mihajlovic, yang sudah resmi berpamitan dari Sampdoria. Hal ini masih dibantah oleh Mihajlovic, yang mengatakan bahwa ia belum punya rencana untuk melatih di klub lain.

Napoli berada di peringkat kelima dengan poin 63.

Drama Tragis Tim Terdegradasi

Di setiap liga sepakbola, pasti ada tim terdegradasi. Namun, ada beberapa klub yang seharusnya ‘tak layak’ mendapatkannya. Sama halnya dengan Parma. Masa kejayaan yang sempat dibangun di era 90an seolah tidak berbekas dengan bangkrutnya klub sepakbola yang pernah disponsori oleh pabrik keju raksasa Parmalat ini. Bergantinya kepemilikan sekaligus perombakan manajemen adalah awal dari kehancuran Parma. Tim ini masih bertahan di posisi keenam seri A Italia tahun lalu. Tomasso Ghirardi, ex presiden Parma ini dianggap telah membuang puluhan juta dollar untuk membeli pemain muda yang belum jelas potensinya.

Di musim ini, Parma mengalami 18 kali kekalahan, 2 kali seri dan 3 kali kemenangan. Bahkan, nilai Parma pun dipotong 7 poin karena lalai dalam membayar gaji pemainnya. Parma pun sukses meluncur ke seri B, dengan poin 19 di peringkat 20.

Sedangkan Cagliari, tim terdegradasi lainnya, masih memiliki kans untuk memulihkan reputasi. Meski selama ini, Cagliari bukanlah tim yang menjadi langganan Liga Champions dan Liga UEFA, namun tim ini sudah memiliki pelatih yang siap mengubah performa tim secara signifikan. Gianluca Festa, telah memiliki kepercayaan dari manajemen dan suporter tim ini untuk membawa Cagliari menjadi tim yang jauh lebih mumpuni. Ia menggantikan Zdenek Zeman yang dianggap memperparah posisi Cagliari yang terpuruk di papan bawah.

“Saya siap membawa Cagliari kembali ke seri A, dua musim berikutnya,” paparnya seperti yang dilansir oleh Sky Sport Italia. “Saya memiliki pemain yang sama antusiasnya dengan saya, sehingga kami bisa saling bekerja sama untuk mengembalikan citra Cagliari.”

Ia melanjutkan, bahwa ia bukannya bangga dengan posisi degradasi yang sudah dijalani. Tetapi bersama Cagliari, ia tidak akan berhenti berjuang. “Cagliari memiliki semua syarat yang bisa dipenuhi untuk kembali ke Serie A," pungkasnya

Sementara itu, tim terdegradasi lainnya, Cesena juga harus mengikuti jejak Parma dan Cagliari. Pertandingan terakhir Cesena adalah bertandang ke kandang Torino hanya untuk menelan kekalahan 5-0.

Selama ini, Cesena berperan sebagai pemain figuran di Serie A Italia, sehingga berita tentang posisinya yang terdegradasi tidak terlalu mengejutkan publik pecinta bola. Cesena berada di posisi ke 19, dengan perolehan poin 24.

promo tas wanita promo tas wanita
Cek Promo Gratis Ongkir/Cashback Lainnya:
Visit us on Google+