Sinopsis dan Pemain Film Indonesia "Stip dan Pensil" (2017)

film Stip dan Pensil 2017

Sinopsis "Stip dan Pensil" Tayang Perdana 20 April 2017

Bullying adalah kasus paling mengerikan yang seolah tak kunjung usai, terutama dalam dunia pendidikan. Kasus ini marak diberitakan di media masa sejak sepuluh tahun terakhir, kendati kekerasan dalam sekolah ternyata sudah terjadi lebih dari lima dekade. Pasca orde baru, media massa baru ‘berani’ mempublikasikan kekerasan di sekolah karena banyak pihak orang tua dan korban yang mulai berani melaporkan kepada polisi.

Hal ini juga diungkapkan oleh Ernest Prakarsa, salah satu aktor yang membintangi film “Stip & Pensil”. Dalam film yang dibintanginya ini, ia berperan sebagai anak sekolah yang dibully. Ia mengaku bahwa ia sudah cukup kenyang mendapat kekerasan di bangku sekolah sejak SD hingga SMA karena ia seorang minoritas.

Sinopsis “Stip & Pensil” berbeda. Film ini menghadirkan bagaimana kasus kekerasan dalam sekolah tak pandang bulu. Tetapi, biasanya, kita melihat bahwa mereka yang mengalami ‘bully’ adalah seseorang yang memiliki kemampuan ‘rendah’ atau ‘tak mampu’.

Sedangkan dalam film yang disutradarai oleh Ardy Octaviand ini, mereka yang dibully adalah siswa-siswa yang berasal dari kalangan berada. Kita sering melihat film atau drama yang menghadirkan geng anak orang kaya yang berkuasa di sekolah, hingga mereka menjadi geng paling ditakuti di sekolah.

sinopsis Stip dan Pensil 2017

Film Indonesia Terbaru 2017 "Stip dan Pensil" siap bersaing dengan "Kartini"

Memang, mereka punya karakter yang menyebalkan karena mereka menganggap remeh siswa lain. Alih-alih ditakuti oleh siswa di kelas tersebut, mereka justru dibully ramai-ramai. Tak ada yang mau berteman dengan mereka, apalagi menjadikan mereka anggota kelompok studi.

Merasa senasib sepenanggungan, kelompok anak orang kaya ini membentuk kelompok sendiri untuk menggarap tugas sekolah tersebut, dimana mereka harus membuat laporan tentang kehidupan sosial dalam masyarakat.

Bagi mereka, tugas ini sangat berat karena mereka tidak pernah sekalipun bergaul di luar zona nyaman mereka. Setelah berpikir keras, mereka sepakat untuk mengangkat isu pendidikan yang sulit dicapai oleh mereka yang tidak mampu. Mereka pun berinisiatif untuk membangun sekolah darurat bagi anak pemulung, pengemis dan tuna wisma dengan biaya mereka sendiri.

Keberadaan sekolah ini disambut gembira oleh anak-anak yang memang ingin bersekolah. ‘Geng’ anak sekolah inipun seolah mengalami kehidupan baru yang menyenangkan. Mereka—yang menjadi guru dadakan—merasa sangat dihargai oleh murid-murid tersebut. Kegembiraan para murid membuat tiga siswa ini semakin bersemangat, kendati mereka harus mengeluarkan biaya untuk sekolah darurat ini.

Cerita belum berakhir. Kegembiraan yang dialami murid-murid sekolah darurat tak diamini oleh beberapa orang, bahkan orang tua mereka sendiri.

Tidak semua orang tua murid keberatan, namun hanya beberapa dari mereka yang terprovokasi oleh hasutan Pak Toro. Ia adalah ‘pemimpin’ dari komunitas pemulung dan tuna wisma di daerah tersebut. Ketiga siswa ini tidak menyerah.

Mereka berupaya membujuk si pemimpin, meskipun tak mudah. Belum usai masalah ini, masalah lain muncul. Dan kali ini, mereka hampir angkat tangan dalam mengatasinya. Tetapi, kreatifitas dan ide baru pasti muncul saat seseorang berada dalam tekanan dan intimidasi. Hal ini yang akhirnya dibuktikan oleh geng guru dadakan ini, sehingga mereka berhasil membuktikan bahwa mereka bukanlah anak-anak yang sok.

Penasaran? Tunggu “Stip & Pensil” pada 20 April 2017 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Pemain Film Stip & Pensil (2017)

Aktor dan aktris pemeran utama dalam film ini ternyata dapat menghayati peran sebagai siswa yang di-bully. Mereka adalah Ernest Prakasa, Tatjana Saphira, Ardit Erwandha dan Indah Permatasari. Saat konferensi pers dari peluncuran film yang diproduksi oleh MD Pictures ini, para aktor dan aktris tersebut diatas menceritakan bagaimana pengalaman mereka saat dibully di bangku sekolah.

pemain stip dan pensil 2017

Karena itulah, mereka berharap bahwa kasus yang tidak menunjukkan sikap beradab ini bisa dihentikan melalui upaya berbagai pihak. Tidak hanya dari sekolah, tetapi juga dari media hiburan. Bagi para aktor dan aktris tersebut diatas, “Stip & Pensil” bisa menjadi salah satu media hiburan paling efektif sebagai kampanye anti bullying.

Peran dari aktor dan aktris yang bergabung dalam deretan para pemain “Stip & Pensil” memegang peranan penting untuk sukses film yang diproduseri oleh Manoj Punjabi ini. Memang, mereka bukanlah aktor dan aktris yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia seni peran. Akan tetapi, penghayatan mereka akan peran yang mereka lakoni bisa menjadi bekal yang lebih dari cukup.

Tentu, mereka juga melakukan observasi untuk melakoni peran sebagai guru dadakan yang menghadapi murid-murid dari kalangan bawah serta menghadapi orang tua yang tak ingin anak mereka bersekolah, karena dianggap mengganggu ‘jadwal kerja’ anak-anak tersebut.

Ardy Octaviand, sang sutradara, tentu tak ingin film ini gagal di pasaran. Selama ini, ia telah melahirkan film-film berkualitas seperti “Coklat Stroberi” dan juga “3 Dara”. Pecinta film tanah air bisa berharap bahwa film dengan unsur komedi ini bisa menjadi hiburan berkualitas. Saksikan penayangan perdananya di jaringan bioskop 21 Cineplex dan bioskop lainnya di seluruh Indonesia pada tanggal 20 April 2017.

Last edited 4 weeks ago